Hai Guys!!

Hey, Folllow my tweet please: http://www.google.com/2005/gml/data.My Twitter .

Drum Corps Unsyiah

Drum Corps Unsyiah berhasil membawa pulang 4 piala dari Kejuaraan Marching Band Se-Sumatera/AKPAR Extravaganza II, Medan.

My Family

Yeah, this is My Big Family.

MERGER 2012

MERGER 2012 is Management of Regeneration 2012,Consist of EKM, PRODIS, PERBANKAN, PERUSAHAAN, dan PEMASARAN. "Sehati Peduli Sejiwa Beraksi"

May 2, is HARDIKNAS and my BornDay

Terimakasih kepada seluruh keluarga serta kerabat yang telah mengucapkan dan memberikan dosa serta kejutan kepada saya. Thanks!.

Rabu, 07 November 2018

Sapa tanpa tuju

Hei wanita yg kuidamkan sedari dulu, aku rindu, terkadang rinduku tidak bermartabat menjadi haru, menawarkan ketidakpastian berlabuh bagi perahu baru.

Hei rindu, Cintaku luput hingga beku, namun seketika mencair ketika aku mengenang seteguk saja masa-masa itu. Lucu, tapi begitulah aku, gampang rindu.

Mengingatmu, seperti halnya candu kaffein dalam tubuhku, seperti otakku yang  selalu mengeluarkan prosa tanpa kata baku, selaksa racun  menjadi penawar selayaknya madu, dan aku buta malu untuk selalu mengucapkan kata rindu.

Hei aku, prinsipmu keras namun rindumu tidak selemah itu, kau berfikir seolah cerdas namun dibodohi gejolak tidak menentu, hatimu rapih dan lembut namun gampang kusut tanpa kendali waktu,.

Huuuu, sorakan kecil yg sering diacap jari ketika bersamamu, menggembalai canda dari satu hingga seribu, aku ingat benar kau pasti senyum tersipu, menunggu candaku kembali menuangnya dalam perilaku. Yang pasti aku tahu, aku pernah lucu untukmu, menghasilkan senyum yang mampu membasahi semangat hidupku, meresapi segala gundah dan lukamu, menjadi sakit yang tidak berpenghulu.
Aku rindu, luka tersayat waktu, lelah menghitung minggu, gugup akan kepastian tentang aku untukmu?

Selasa, 12 Juni 2018

Retorika Rasa

28 Ramadhan sudah, meskipun penulisan yang benar telah diresmikan menjadi "Ramadan," bagiku logatnya lebih asik seperti bahwa aku menyebutnya.

Masih pada pagi dengan kicau merdu para roamer udara, aku hampir menyudahi tatapan lurus menuju alam indah nan nikmat begitu saja. Namun, aku masih saja memikirkan beberapa hal yang membuat aku ingin sekali menulis beberapa kata seperti mereka. Mereka yang hebat menurutku, berhasil merangsang kemauanku untuk segara lebih memanfaatkan ruang blog ini agar menjadi tulisan yang bisa dikonsumsi dengan benar.

Aku sempat beradu argumen dengan mereka, mengatakan bahwa memang blog ini aku ciptakan untuk mengisi segala kondisi random dari hati, bukan untuk mereka yang hanya suka menikmati.

Namun mereka bersikeras menampilkan hasil tulisan fiksi mereka yang telah siap dikonsumsi. Sungguh  hal itu membuat nafasku memburu, mereka baru, namun lihai dengan diksi yang berhasil merenggut perhatianku, bahkan dengan mata yang berbinar aku mulai merajut kemauan untuk dapat beriringan dengan mereka itu. maka di sepetak kamar yang bertatapkan tembok biru, aku mulai merasa ingin berlari dan meninggalkan bangku penontonku, untuk mampu produktif memanfaatkan setiap jenis ungkapan di hati menjadi berbagai ribu bentuk ungkapan yang dapat dicicipi, Tentu setelah kelar skripsi.

"oalah, masih ya?" keluhan hati tanpa memperhatikan aba-aba dari pemiliknya.
Namun tidak perlu dijawab, karena jawabanya meski ditanya keempat kali pun masih tetap "masih Skripsi, hampir kelar," dan hampir kelar ini pun terus bergulir seiring berjalannya waktu. Namun apapun konsekwensi, aku masih mencoba terus sadar diri, agar prioritas terus dapat digaris bawahi.

Masih terbaring, namun memang kondisi dari pola tidurku sudah berantakan semenjak aku memiliki warung kopi, sebuah usaha idaman yang aku impi-impikan, Ditambah Ria, seseorang yang aku mengira bisa terus berseri di hati pergi begitu saja tanpa meninggalkan sisa-sisa kepingannya, setidaknya agar aku dapat merindu walau hanya sekali kedipan mata.

Aku ingin sekali merasakan badanku menempati tempat tidur untuk segera mampu terlelap, namun tetap saja mata ini terus dirangsang oleh otakku untuk memikirkan lebih banyak kata dan bahasa.
Ahh sudahlah, kali ini aku sudah pada puncaknya, ingin tidur. "Bangunkan aku saat adzan dzuhur ya!" sebuah ungkapan yang selalu aku perintahkan kepada Ria yang sangat setia terhadapku. Dan saat itu aku hanya bisa berkhayal dia mampu membangunkannya melalui angan dan do'a. Selucu itu aku mengharapkannya.
28 Ramadhan, aku tutup paginya dengan mimpiku.

Kamis, 07 Juni 2018

Rapuh

Kularut luruh dalam keheningan hatimu

Jatuh bersama derasnya tetes airmata
Kau benamkan wajahmu yang berteduhkan duka
Melagukan kepedihan di dalam jiwamu

Tak pernah terpikirkan olehku
Untuk tinggalkan engkau seperti ini
Tak terbayangkan jikaku beranjak pergi
Betapa hancur dan harunya hidupmu

Sebenarnya ku tak ingin berada disini
Di tempat jauh yang sepi memisahkan kita
Kuberharap semuanya pasti akan berbeda
Meski tak mungkin menumbuhkan jiwa itu lagi

Aku tak mengerti apa yang mungkin terjadi
Sepenuh hatiku aku tak mengerti

Senin, 04 Juni 2018

Sejak Lama Sirna

Saya sudah sejak lama tidak memilikinya, walau seribu nama menamakannya apa, hanya saya yang terlalu fana dipandang mata.

Dari sekian banyak tema, hanya tentangnya yang terus deras mengarungi cerita.

Saya sudah sejak lama tidak memilikinya, namun saya tetap bangga dengan perjuangan saya, mempertahan cerita tidak berakhir segera, layaknya hati keram yang terus menerus tertindih luka, namun demikian kau adalah masih bahagia yang tetap saya singkat kita.
saya sudah sejak lama tidak memilikinya, apalagi bersamanya. mungkinkah doa kan tetap terjawab dari sekedar saya yang tetap mengharapkannya?

Dia, yang indah walau hanya saya yang merasa selalu berbunga bunga, atau saya yang terlalu jauh terlena dan pergi berkelana?

Dan bahkan, dan masih (terus) saat paragraf ini selesai pun saya hanya mampu memberi kau huruf A dan A.
maafkan saya, dari saya AA!

Minggu, 03 Juni 2018

Biar Saya yang Mengakar

Kebimbangan memang terkadang menjadi mudah menghampiri segala hal yang terpikir hanya sekedar biasa. Namun tidak pada rasa, menerjamahkannya saja tidak cukup sekedar mudah untuk bisa terkelola.
Akhir akhir ini, arah prosa saya seolah terkerucut pada persoalan hati, namun baik untuk diketahui bahwa mengulik definisi dari setiapnya takkan kunjung berujung meski elaborasi tanpa henti.
Memang cukup mudah dibaca bagi mereka yang mempunyai mata, namun sulit terbantah paham jika hanya tidak meresapi makna.
Saya, pria tanpa peka arah dituju untuk meraba, belum benar benar paham sedewasanya harus bagaimana.
Saat ini saya hanya takut akan hal "itu,"
pedahal sudah mencumbu dipalung terdalam sedari dulu, bahkan saat ini saya berfikir bahwa setahun bukan hal tidak mungkin akan tidak lagi satu, namun takut adalah kesia sian yang saya tahu mampu mampu membuat saya tersapu.
jika terus berfikir tentang arah, apakah yakin tidak akan ada lagi pertanyaan dari setiap yang terjatah?
apakah mereka patah? terbantah? atau hanya sekedar melumrah akan rasa yang selalu saya papah?
terkadang berlari untuk dikejar hanya membuat kita akan berfikir sejajar, bahwa sewajarnya kita hanya sekadar mampu menakar, terlebih dari itu sudahlah hanya saya yang mengakar!
Hmmm.. saya sadar, ketika kata demi kata bercerita datar, ini adalah awal tentang cerita kita yg semakin pudar.
bahkan saat disampaikan suka, saya kembali merasa sukar akan was was untuk menderita.

Sabtu, 10 Maret 2018

Rajutkan kembali

Bunga yang sedang disemai, seketika berhamburan oleh lirihnya angin lalu tanpa tepi, terasa bahwa masih ada segenggam rasa yang belum tuntas bahkan terasa tidak akan pernah pantas berakhir pergi.

Datang di akhir petang, tanpa peduli kondisi sudah hampir menuju kepalang.

Setahun sudah dipernah dilalui, banyak cerita dan kata dariku untuk berusaha mengakhiri, namun pikir boleh saja berharap untuk tidak mengulangi, namun yang lebih paham untuk menjawab adalah hati.

Kini pertangahan bulan februari tahun ini, mengulang kembali dan seolah tidak pernah berakhir sama sekali, kembali dengan harapan yang kan mampu merajut untuk saling menggenggam hati.
Semoga memang seperti berjuta ekspektasi dari imajinasi tak berbatas duri.
Semoga berjalan sesuai asa untuk menggenggam tanpa pernah peduli kapan saatnya akan berhenti.

Kamis, 15 Februari 2018

Gaya Bahasa

Akhir-kahir ini, saya merasakan bahwa beberapa dari postingan yang saya bagikan menunjukkan adanya berbagai gaya bahasa yang tidak stabil. ahahah, terkadang sok puitis, terkadang menjadi sok bijak, terkadang baku tidak menentu. Pada postingan kali ini, sayang hanya ingin menyampaikan mengenai berbagai postingan saya terkadang tidak mendasar, akan tetapi juga saya memposting sesuai dengan susana hati dan kondisi yang sedang terjadi. Saya bukan seseorang yang ingin eksis dengan berbagai tulisan saya, apalagi menjadi seseorang yang ahli dalam sastra, karena memang sebenarnya itu bukanlah expert saya.

Jika mau dibandingkan dengan penulis, jauh dari kata bagus untuk menilai saya sebagai penulis, karena sejujurnya memang bukan penulis profesional dan memiliki karakter dari setiap kata serta alur pada setiap paragrafnya. Saya hanya memposisikan diri sebagai orang yang hanya hobi mengungkapkan berbagai kondisi dan keingin saya saja. Karena pada suatu postingan saya yang sangat lampau, saya sempat menyampaikan bahwa, mengabadikan moment bukan hanya melalui cetak gambar, tapi juga bisa melalui tulisan, agar kelak saya bisa kembali membacanya dan mungkin bisa dipetik pelajaran dari kondisi saya saat menulis postingan tertentu.

Jika diperhatikan, gaya bahasa saya tidak pernah spesifik, itu dikarenakan tingkatan dari gaya bahasa saya akan berubah sesuai dengan emosi yang saya dapatkan. terkadang saya mengambil gaya bahasa dari daerah tertentu, terkadang kebetulan menemukan rima yang cocok, terkadang menjadi lebih naratif dan deskriptif.
kesimpulannya, apa yang saya rasakan akan saya turut sertakan dalam gaya bahasa dari setiap postingan.
Dan saat ini, saya sedang tidak dalam kondisi emosi yang merujuk pada kondisi spesifik alias normal. ahahaha


Selasa, 13 Februari 2018

Untuk Mereka

Baru saja akhir-akhir ini saya merasakan terhadap lambatnya berjalan waktu, baiknya adalah tugas dari preoritas utama bisa diberdayakan untuk memperbaiki hasil nantinya, semoga saja amin. Namun keseharian tetap berjalan dengan semestinya, saya tidak merasa terjadi kekosongan meski dia sudah 2 hari lebih tidak menyapa. Nah, saya sudah merasa menghilangkan rasa, tapi mengapa pada setiap postingan belakangan ini selalu terselip 'dia' disetiap potongan kata.

Ahhh sudahlah, itu semua sudah berlalu. Ditambah beberapa waktu tadi bahwa seseorang yang sempat menghangatkan jiwa yang baru saja tumbang ini, mengatakan hal yang sedikit mengecewakan. Namun lagi-lagi itu adalah hal yang baik dan melegakan, karena tidak ada yang lebih baik dari sebuah kejujuran kaan.

Setidaknya waktu, sedikit demi sedikit mulai mengungkapkan hasil dari setiap proses, maka proses perlu diperlakukan dengan baik agar menuai hasil yang baik pula. Dan hari ini, biarpun saya merasa masih kurang maksimal terhadap hal tersebut, setidaknya saya sudah mulai berusaha dan membuka mata agar tidak meraba masa depan dengan kondisi buta.

Hari ini, saya kembali terus menyuarakan motivasi untuk diri, agar harapan orang tua tercinta tidak menjadi lirih sendu di waktu senja. Bahkan, perlu rasanya berjanji pada diri sendiri, bahwa selalu ingat bahwa luka terperih sebenarnya bukan dari cinta yang belum lah pasti adanya saat ini, bukan dari rasa yang saya rasa singgah sesaat dikarena zona nyaman terus meresapi, namun luka itu berasal dari pribadi yang tidak cukup presisi mematangkan langkah-langkah untuk menggapai harapan dari orang yang sebenarnya sudah pasti sangat mencintai Kita sedari dulu, bahkan mencintai hingga takkan terjawab batasnya sampai bila-bila.
Merekalah sebenarnya yang patut diperjuangkan, dan merekalah orang tua kita.

Minggu, 11 Februari 2018

Saatnya Berpindah

Pengalaman mebuktikan, jika saat beranjak dari kotak duka akan rasa yang terus berlarut lama, maka akan segera membuat kita jatuh dan merasakan sulit bangkit untuk kesekian kalinya, padahal jika dipikirkan, berbagai kondisi buruk lainnya pernah dihadapi, namun mengapa pada kondisi yang sedikit lebih ringan dapat membuatnya lebih terasa berguncang.

Jawaban kongkrit juga ditemukan dari berbagai kondisi, saat mendengarkan pembicaraan disana kemari, ada beberapa yang sempat merekat yaitu sebuah pembenaran yang dialami oleh diri ketika mempunyai kenangan manis yang masih dalam kondisi cinta, ada baiknya ketika kondisi sudah tidak sesuai dengan apa yang diharapkan, maka biarkanlah kenangan tersebut tetap menjadi sebagai kenangan, agar nantinya tidak harus dipaksakan. Karena pada suatu ketika ingin mengusakan kembalinya kondisi manis dari kenangan itu, ada beberapa hal-hal sudah tidak sama lagi, karena hal-hal yang sangat berpengaruh seperti rasa dan cinta memang tidak bisa dikondisikan untuk hadir dan meredam semaunya.

Kemudian, jika kondisi melupakan menjadi sangat berat, maka usaha lebih tinggi harus dicoba, seperti membuka hati, menghadirkan harapan baru, hingga meredam komunikasi kepada hal yang berkesinambungan dengan kondisi manis tersebut hadir kembali. Persiapkan diri agar lebih matang menerima yang sudah tidak jadi milik sendiri, syukuri berbagai kondisi yang sedang digenggami, agar nanti akan dewasa menghadapi kondisi-kondisi yang sudah tidak diinginkan hati.

Maka tulisan kali ini, bukan berupa mengajari kalian yang sebenarnya sudah sangat paham akan arti, namun hal ini hanya untuk mencoba memotivasi diri sendiri, agar dengan selesainya bait dari tulisan ini, menjadikan pribadi yang sudah memang benar-benar untuk mengakhiri.

Akan tetapi, bukan untuk dilupakan kenangan selama ini, hanya saja untuk berupaya mengakhiri kenangan tersebut pada kondisi yang manis beridiri, bukan berakhir pada hal yang nantinya mampu merubah manis menjadi hambar untuk dikenang oleh hati, dan bait diakhiri dengan terimakasih dan sampai jumpa nanti.


Sececar Penyemangat untukmu

Hai kau yang tidak terpaku, kuat dengan berbagai hal yang aku rasa berat untukku, namun itu tidak berlaku untukmu.
Berjalan dalam awal yang sempat kamu lupa seberat badai, dan hingga kini proses hampir menuju kata selesai.
Namun, sakitkah jika kini hanya tinggal sisa gerimis mulai bergemurai(?)
Patutkah kamu merintih hingga lalai(?)

Bahkan itu tidak sebanding dengan yang kamu impikan.
Karena merasa-rasakan beban hanya berujung menyakitkan, maka besarkan harapan agar tidak sekedar jadi angan, agar kamu siap jika badai lebih besar dari sekedar topan.

AA | BNA. Feb. 22, 2018 

Sabtu, 10 Februari 2018

Masih (?)

Di sela-sela rindu aku menjadi tidak menentu, nyanyikan kisah gambaran cinta masa lalu, dan merusak tembok kokoh hati tanpa malu, bahkan sudah terlalu letih untuk mendayu.
Sebongkah kayu, rayap menjadi lebih cepat membuatnya enyah, lah aku terlalu lambat bahkan hanya untuk sekedar rasa yg seharusnya sudah punah. Serasa pasrah, seinginnya hanya mencoba tak menyentuh tanah. tapi gundah, segegabah memilih ranting hati mudah patah.
Rumit dan sulit kata yang tiba sekejadiannya berkelit. Jika dikaitkan luka dalam itu bahaya hingga menderit, maka luka dikulit itu lebih dari sekedar sakit bak terparit. Haruskah aku pamit (Lagi) (!?)

Selasa, 06 Februari 2018

Simpulnya

Senja penutup hari ini kan segera tiba, kembali aku memastikan bahagia itu apakah berseberang dengan duka, atau memang sudah membekas luka. Pada sebenarnya, bersedih bukanlah sebuah gaya bahasa, hanya saya sedang sedikit membuang pilu yang baru saja terdengar untuk ditinggal jauh di seberang pulau sana.
Pun bukan tentang harus bertahan kan?
Tapi bagaimana bisa terus beranjak meski terlihat perlahan.
Jangan terlalu larut untuk takut saya merasa sakit, karena saya pria yang akan segera bangkit.
Saya punya kedua kaki untuk bertumpu, bahkan bisa dipastikan ketika kamu bukan hanya satu, maka kelak kan terjawab untuk sebuah bahagia yang padu.
Jangan juga terlalu takut mengungkit kenangan indah nan bahagia, karena suatu saat itu juga patut menjadi obat ketika rindu sedia nyata.
Dari setiap pesan, kamu punya harapan dari setiap alasan, kenapa dari sepekan hanya ada banyak pertanyaan, sebenarnya hanya untuk berujung pada satu kepastian.
Sekarang saya jauh lebih yakin, akan langkah sebenarnya agar dapat menerangi gelap layaknya lilin, dan dapat bermanfaat dengan kepastian dalam langkah yang saya ingin.

Minggu, 04 Februari 2018

Bahagia kan duka

Cukup bisa paham berkicau tanpa suara, berbicara tanpa kata, bertumpu tanpa makna, dan mu MAYA tidak akan pernah menjadi NYATA.
Sudikira kuberkata tak paham makna layak sansekerta, kuberbicara bukan arah langkah utama, hendaknya meluap-luap bak cinta yang berbunga-bunga. Mu berwarna, merah muda.
Tumbuh, rapuh, kan jatuh.
Mungkinmu baca hanya karena mu punya mata, tapi rasa kan terasa luka, mengecap ranjak duka, berperan tanpa aba.
Makna hanya ku dan Tuhan yang punya, dan mu hanya kan bertanya, apa tujuan dari ini semua.
Dan mu pernah jadi bahagia, meski kan tergantung duka.
Maka lupa, wujud dari rupa yang durjana, meski kan kubutuh bak syifa, hingga kelak tak kan perih terasa.
Bukan tega, hanya mu pernah bertindak dalam pinta, akibat layak adalah tersiksa, maka berujarlah tetap dalam harap dan doa.

Senin, 08 Januari 2018

Seuntai Kilas Balik akan Lampauku

Aku tak paham, mengapa kamu, seseorang yang pernah menetap, memilih beranjak tanpa alasan yang bahkan sampai ke telingaku. Aku, kamu, pernah merajut asa sederhana, yang bahkan tak pernah ada di benakku sebelumnya. Asa yang membuatku menimbun mimpi tinggi atas nama kita berdua. Asa yang membuat duniaku berguncang sejenak karena bahagia sempat memenuhinya.

Aku tak tahu, mungkin setelah lebih mengenalku, kau kelelahan akan kecewa bahwa aku bukan sesosok manusia dengan hati seindah khayalmu. Mungkin juga, segala hiburku tak dapat mengatasi segala dukamu yang kau pilih tak kau perdengarkan padaku. Dan mungkin, sedikit tawa yang pernah kita bagi tak seistimewa itu untuk dijadikan selamanya, dan pada akhirnya kau sadar itu. Tapi seharusnya kau berkata, mengapa agar ku tak lagi bertanya.

Layaknya si pincang, aku pernah terseok menjalani hari menantimu datang menanyakan kabarku lagi, berharap apa yang aku pikirkan, apa yang aku lihat, dan apa yang coba aku percaya bukanlah hal nyata yang harus kuterima. Aku pernah berdiri di penghujung jembatan kita, menantimu datang dan menjelaskan segalanya. Namun, hujan mengguyur dan menyadarkanku bahwa kau sudah lupa, bahwa ujarmu padaku pernah ada. Hujan membangunkanku dari tidur berkepanjanganku sejak kau ceritakan dongengmu yang harus berakhir adanya.

Aku yang jauh lebih paham, bahwa cinta hadir karena terbiasa, karena jauh sebelum rasamu ada, aku yang terlebih dulu memulainya. Wajar jika kita memudar, karena ketika kita kembali ke dunia yang sewajarnya, ketidakhadiranku menghapus rasamu perlahan, layaknya rasa untukmu sekarang. Duniamu jauh lebih mengasyikkan dibanding sang pecandu bait yang lebih suka membusuk di sudut rindu dan mati di sudut pilu. Kau terlalu bosan dengan tanya-tanya harianku, yang bahkan sudah tak menggetarkan hatimu. Dan sejak itu, aku menjadi yakin, sesabar apapun lagi aku menunggumu, takkan pernah ada tempat untuk masaku, bahkan walau hanya secuil kuku.

Karena kamu sudah menghentikan rasamu bahkan tanpa aku tahu. Kamu berlalu bahkan sebelum aku mau. Tanpa pamit dan tanpa ragu, membuatku dengan bodohnya menjaga rasaku yang bahkan tak punya malu. Dan di jeda waktu kamu meninggalkanku, amarahku di penghujung itu menyelesaikan semua tuju, bahwa aku dan kamu pernah berharap satu, bahwa riang kita pernah padu, dan bahwa kamu, pernah menjadi primadona dalam doa panjangku.

Sudahlah, baik-baik saja kamu dengan tuju barumu. Kalaupun aku masih melintas di benakmu, akhiri saja jejak itu. Karena aku hanya sesalmu, yang masih akan menjadi teman di masa depanmu. Rajin-rajinlah kamu mencari jati baru, yang menyemangatimu membuka setiap lembaran harimu. Jangan ingat aku, sang duri yang mungkin sudah menusuk dalam di hatimu. Sudahi saja sudah, kamu lebih bahagia tanpa kelakar itu. Dan pamitku, dengan surat singkat ini aku menyatakan benar-benar berlalu. - YN


Seuntai kilas balik akan lampauku.
4 Januari 2018 | 17:25