Hei wanita yg kuidamkan sedari dulu, aku rindu, terkadang rinduku tidak bermartabat menjadi haru, menawarkan ketidakpastian berlabuh bagi perahu baru.
Hei rindu, Cintaku luput hingga beku, namun seketika mencair ketika aku mengenang seteguk saja masa-masa itu. Lucu, tapi begitulah aku, gampang rindu.
Mengingatmu, seperti halnya candu kaffein dalam tubuhku, seperti otakku yang selalu mengeluarkan prosa tanpa kata baku, selaksa racun menjadi penawar selayaknya madu, dan aku buta malu untuk selalu mengucapkan kata rindu.
Hei aku, prinsipmu keras namun rindumu tidak selemah itu, kau berfikir seolah cerdas namun dibodohi gejolak tidak menentu, hatimu rapih dan lembut namun gampang kusut tanpa kendali waktu,.
Huuuu, sorakan kecil yg sering diacap jari ketika bersamamu, menggembalai canda dari satu hingga seribu, aku ingat benar kau pasti senyum tersipu, menunggu candaku kembali menuangnya dalam perilaku. Yang pasti aku tahu, aku pernah lucu untukmu, menghasilkan senyum yang mampu membasahi semangat hidupku, meresapi segala gundah dan lukamu, menjadi sakit yang tidak berpenghulu.
Aku rindu, luka tersayat waktu, lelah menghitung minggu, gugup akan kepastian tentang aku untukmu?
Hei rindu, Cintaku luput hingga beku, namun seketika mencair ketika aku mengenang seteguk saja masa-masa itu. Lucu, tapi begitulah aku, gampang rindu.
Mengingatmu, seperti halnya candu kaffein dalam tubuhku, seperti otakku yang selalu mengeluarkan prosa tanpa kata baku, selaksa racun menjadi penawar selayaknya madu, dan aku buta malu untuk selalu mengucapkan kata rindu.
Hei aku, prinsipmu keras namun rindumu tidak selemah itu, kau berfikir seolah cerdas namun dibodohi gejolak tidak menentu, hatimu rapih dan lembut namun gampang kusut tanpa kendali waktu,.
Huuuu, sorakan kecil yg sering diacap jari ketika bersamamu, menggembalai canda dari satu hingga seribu, aku ingat benar kau pasti senyum tersipu, menunggu candaku kembali menuangnya dalam perilaku. Yang pasti aku tahu, aku pernah lucu untukmu, menghasilkan senyum yang mampu membasahi semangat hidupku, meresapi segala gundah dan lukamu, menjadi sakit yang tidak berpenghulu.
Aku rindu, luka tersayat waktu, lelah menghitung minggu, gugup akan kepastian tentang aku untukmu?









