Hai Guys!!

Hey, Folllow my tweet please: http://www.google.com/2005/gml/data.My Twitter .

Drum Corps Unsyiah

Drum Corps Unsyiah berhasil membawa pulang 4 piala dari Kejuaraan Marching Band Se-Sumatera/AKPAR Extravaganza II, Medan.

My Family

Yeah, this is My Big Family.

MERGER 2012

MERGER 2012 is Management of Regeneration 2012,Consist of EKM, PRODIS, PERBANKAN, PERUSAHAAN, dan PEMASARAN. "Sehati Peduli Sejiwa Beraksi"

May 2, is HARDIKNAS and my BornDay

Terimakasih kepada seluruh keluarga serta kerabat yang telah mengucapkan dan memberikan dosa serta kejutan kepada saya. Thanks!.

Kamis, 08 Juli 2021

Malam itu

 Disela jemari menari diatas papan ketik, curahan dari setiap cerita kembali dimulai dengan berbagai permulaan ala gayanya bekerja, yang tidak akan mampu dipahami jika tidak menyaksikan akhirannya. Selalu ada, bahkan setiap detik bekerja terus memberikan cerita versinya. Memulai menghitung namun masih belum tersedia keberuntungannya. Angka atau nilai, bahkan keduanya hampir tampak sama, kian buta merasakan perbedaan dari keduanya.

keberlansungan yang sangat cepat dilalui seolah tidak sengaja terjadi. Malam itu,  sabtu malam yang hebat dan hampir menjadi sejarah baru, tentu sedang tidak berpihak pada dia yang merasakan terbang melayang begitu saja. tatapan nanar tanpa dirasa curiga, kembali melukis cerita yang akhirnya menjadi senja yang indah dikenang namun hanya malam yang beruntung memilikinya.

Bohong jika diceritakan tentang pilu membiru disetiap halaman, faktanya masih berlaku, entah caranya yang manis untuk memulai, atau bahkan pahit sekalipun mampu  untuk diteguk tanpa wajahnya meraut. Dan sialnya, sisa-sisa itu kembali tertuang dalam cerita yang tentu saja tidak untuk diselam hingga palung terdalam, namun mampu kukias dalam kelam.

Bijakku berkata bahwa menanjak bukan cara bertapak di kerendahan yang telak, percaya dan terus mengisah disetiap para bidak tidak mampu lagi mengelak.

Rabu, 05 Juni 2019

Merengkuh tanpa Teduh

Menapaki jejak langkah yang lelah berlari, mengutip rasa sabar sembari bersyukur di dalam hati. Kini tidak lagi berada pada posisinya mengucap indah, bahkan nyaman merupakan sebuah kata terlemah untuk menjadi lumrah. Mengenang mapan hanya kembali pada titik terendah, seakan-akan ingin mengoyak kembali kisah-kisah.

Resapi saja apa yang sedang digenggam, agar semuanya terasa ada hingga tidak akan tenggelam dan remuk redam. Sama hal layaknya perkara kisah di luar nalar, bercerita seakan-akan tidak lagi mengakar, berceritalah dengan imaji yang kembali menghanyutkan hati, ku kembali hanya mampu diam tanpa mendelik sama sekali.

Selamat merengkuh di tepi danau keruh, ku sudah tenggelam didalamnya tanpa separuh, dan suatu saat kembali dari sananya kumulai bertaruh, mencerca cerita tanpa bagian dari cerita yang dulu tidak menyeluruh, agar tidak dungu dengan cerita yang tidak utuh.

Selamat pagi wahai malam, kuakan kembali bercerita tentang senja tanpa termaram.

Senin, 25 Februari 2019

Makna menanti subuh pergi
Meng-asa-kan mimpi
mengalunkan arti

Lirihnya angin lalu tanpa tepi
Segenggam rasa yang tak pantas pergi

Semoga ekspektasi imaji
tak berbatas duri

Menggenggam tanpa peduli
kapan saatnya kita kan berhenti

Aku rindu, tersayat waktu
lelah menghitung telah ribuan minggu
Cintaku luput hingga membeku
Letih tuk mendayu

Rasakan takut, gugup,
atas kepastianmu untukku

Kamis, 31 Januari 2019

Scarf and Outfit Aceh Logo


Scarf and Outfit Aceh Logo, the Online store sells Premium Hijab and Shenany Skincare. Thank you to the owner who ordered us the logo design.

Wanna order? DM me on my IG account at @profde !! thanks and regard.

Kamis, 24 Januari 2019

Angka Hingga Nilai dari Makna

Terimakasih untuk para pendahulu serta kawan-kawan seperjuangan

Kembali berkutat diantara jemari yang menari diatas papan ketik canggih masa kini, yang tentunya pendahulu kita di era zamannya tidak kian merasakan tentang menakjubnya fitur-fitur dinamis yang disediakan. Beruntunglah kita bernafas pada zaman dengan segala kenikmatan yang ada.

Baru saja beberapa hari berselang aku melewati ujian akhir dari karir panjangku di bangku kuliah, kebahagian sesaat tertuang diantara wajah meriah para perangkul karib seperjuangan dulu, aku tentu merasakan hangatnya suka ria selebrasi singkat kala itu. Memang aku sedang dalam kondisi suka, namun aku merasakan duka disela tawa mereka atasku, pasti kalian bertanya tentang hal apa yang aku ratapi dalam hati, aku melihat tawa disandingkan pengharapan yang belum mampu mereka capai seperti yang aku dapatkan saat ini.

Aku masih merasa yakin tentang apa yang orang fikirkan mengenai stelan jas serta perangkat yang kerap melekat pada para borjuis itu kemudian melekat di tubuh kami, maka adalah keterlambatan yang sia-sia atas waktu yang kami buang terlalu lama untuk menamatkan studi alih-alih kaum intelek yang tidak mencerminkan kaumnya.

Aku pernah menulis tentang banyak hal yang sebagian dari tulisanku itu tidak sama sekali mampu dipahami oleh sebagian besar dari pembacanya, banyak dari sebagian mereka bertanya tentang apa maksud yang memberi manfaat dari tulisanku untuk mereka yang sudah membacanya. Aku diam, namun hatiku tidak bungkam, karena aku menulisnya bukan untuk mereka yang hanya mengejar makna serta pengakuan estetika pemuas otak belaka. Namun aku lebih mementingkan rasa yang aku tuju tertuang didalam segenap elaborasi, yang pada hakikatnya tidak sepenuhnya menjadi perwakilan dari keseluruhan rasa yang aku punya, tentu saja setelahnya, makna dari semua itu adalah milikku, bukan milik kalian pembaca yang menginginkan makna dari apa yang hendak kalian paksa. Yang mementingkan kualitas bacaan setingkat penulis kondang yang bukunya butuh antrian untuk bisa mendapatkannya. Kemudian lagi, Pertanyaan populer yang acap kali dijumpai yaitu; lantas mengapa aku membuat tulisan untuk dibaca? Kemudian dengan jelas aku menjawab bahwa, dari setiap bait kata yang tertuang, bacaan dari tulisanku hanya untuk mereka yang berjibaku dengan makna yang pas mengena dilubuk jiwa.

Seperti halnya masa studi yang dilalui. Bagi kami, tamat sesuai kehendak diri kami sendiri merupakan suatu cara mengungkapkan bahwa bukan menjadi ketidakmampuan bagi kami untuk memberikan akhir yang cepat dengan raihan angka semester yang tidak terlampau boros untuk mengakhiri cerita di bangku perkuliahan versi mereka, namun otak kami tidak sedatar anggapan-angapan tersebut, kami lebih memilih alasan lainnya untuk mengejar makna dari apa yang kami anggap lebih bernilai dari sekedar angka, bukan bertujuan merugikan pihak lainnya, namun untuk menemukan dari apa yang layaknya orang biasa tidak temukan ketika mereka hanya bermain lurus segaris berjalan mencari akhiran. Tentu hal tersebut bukanlah pengalihan untuk menghibur diri dari rasa tertekan untuk mengelak atas tuduhan yang dilontarkan. Jika kemudian disalahkan adanya tulisan ini dikarenakan rasa bersalahku terhadap diri sendiri, tentu bukan itu sabuk inti yang mesti dipahami, tapi adanya tulisan ini dikarenakan memang adanya anggapan-anggapan miring kepada golongan kami yang kini terlampau senja mengakhiri cerita tentang perjalanan masa studi. lagi-lagi bukan tentang pembelaan, namun itulah dari satu hingga ribuan kata yang aku pilih untuk diucapkan, hingga mampu kita pahami bersama tentang angka, nilai, hingga makna bukan hanya milik satu perorangan, namun melekat dan melebur disekujur tubuh seluruh insan.

Akhirnya, dari sebagian besar mereka yg lebih peduli terhadap angka, maka kamilah dari sebagian kecil yang lebih peduli kepada nilai yg tidak terhitung olehnya (AA - BNA, 24/01/19)

*teruntuk kawan-kawan seperjuangan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unsyiah angkatan 2012 yang masih merangkak, berjalan, hingga berlari menuju S.E.lamat di akhir perjuangan studi kita! akhir kata, Semangat!! Semoga Sukses untuk kita!! Wassalam.


Rabu, 07 November 2018

Sapa tanpa tuju

Hei wanita yg kuidamkan sedari dulu, aku rindu, terkadang rinduku tidak bermartabat menjadi haru, menawarkan ketidakpastian berlabuh bagi perahu baru.

Hei rindu, Cintaku luput hingga beku, namun seketika mencair ketika aku mengenang seteguk saja masa-masa itu. Lucu, tapi begitulah aku, gampang rindu.

Mengingatmu, seperti halnya candu kaffein dalam tubuhku, seperti otakku yang  selalu mengeluarkan prosa tanpa kata baku, selaksa racun  menjadi penawar selayaknya madu, dan aku buta malu untuk selalu mengucapkan kata rindu.

Hei aku, prinsipmu keras namun rindumu tidak selemah itu, kau berfikir seolah cerdas namun dibodohi gejolak tidak menentu, hatimu rapih dan lembut namun gampang kusut tanpa kendali waktu,.

Huuuu, sorakan kecil yg sering diacap jari ketika bersamamu, menggembalai canda dari satu hingga seribu, aku ingat benar kau pasti senyum tersipu, menunggu candaku kembali menuangnya dalam perilaku. Yang pasti aku tahu, aku pernah lucu untukmu, menghasilkan senyum yang mampu membasahi semangat hidupku, meresapi segala gundah dan lukamu, menjadi sakit yang tidak berpenghulu.
Aku rindu, luka tersayat waktu, lelah menghitung minggu, gugup akan kepastian tentang aku untukmu?

Selasa, 12 Juni 2018

Retorika Rasa

28 Ramadhan sudah, meskipun penulisan yang benar telah diresmikan menjadi "Ramadan," bagiku logatnya lebih asik seperti bahwa aku menyebutnya.

Masih pada pagi dengan kicau merdu para roamer udara, aku hampir menyudahi tatapan lurus menuju alam indah nan nikmat begitu saja. Namun, aku masih saja memikirkan beberapa hal yang membuat aku ingin sekali menulis beberapa kata seperti mereka. Mereka yang hebat menurutku, berhasil merangsang kemauanku untuk segara lebih memanfaatkan ruang blog ini agar menjadi tulisan yang bisa dikonsumsi dengan benar.

Aku sempat beradu argumen dengan mereka, mengatakan bahwa memang blog ini aku ciptakan untuk mengisi segala kondisi random dari hati, bukan untuk mereka yang hanya suka menikmati.

Namun mereka bersikeras menampilkan hasil tulisan fiksi mereka yang telah siap dikonsumsi. Sungguh  hal itu membuat nafasku memburu, mereka baru, namun lihai dengan diksi yang berhasil merenggut perhatianku, bahkan dengan mata yang berbinar aku mulai merajut kemauan untuk dapat beriringan dengan mereka itu. maka di sepetak kamar yang bertatapkan tembok biru, aku mulai merasa ingin berlari dan meninggalkan bangku penontonku, untuk mampu produktif memanfaatkan setiap jenis ungkapan di hati menjadi berbagai ribu bentuk ungkapan yang dapat dicicipi, Tentu setelah kelar skripsi.

"oalah, masih ya?" keluhan hati tanpa memperhatikan aba-aba dari pemiliknya.
Namun tidak perlu dijawab, karena jawabanya meski ditanya keempat kali pun masih tetap "masih Skripsi, hampir kelar," dan hampir kelar ini pun terus bergulir seiring berjalannya waktu. Namun apapun konsekwensi, aku masih mencoba terus sadar diri, agar prioritas terus dapat digaris bawahi.

Masih terbaring, namun memang kondisi dari pola tidurku sudah berantakan semenjak aku memiliki warung kopi, sebuah usaha idaman yang aku impi-impikan, Ditambah Ria, seseorang yang aku mengira bisa terus berseri di hati pergi begitu saja tanpa meninggalkan sisa-sisa kepingannya, setidaknya agar aku dapat merindu walau hanya sekali kedipan mata.

Aku ingin sekali merasakan badanku menempati tempat tidur untuk segera mampu terlelap, namun tetap saja mata ini terus dirangsang oleh otakku untuk memikirkan lebih banyak kata dan bahasa.
Ahh sudahlah, kali ini aku sudah pada puncaknya, ingin tidur. "Bangunkan aku saat adzan dzuhur ya!" sebuah ungkapan yang selalu aku perintahkan kepada Ria yang sangat setia terhadapku. Dan saat itu aku hanya bisa berkhayal dia mampu membangunkannya melalui angan dan do'a. Selucu itu aku mengharapkannya.
28 Ramadhan, aku tutup paginya dengan mimpiku.