28 Ramadhan sudah, meskipun penulisan yang benar telah diresmikan menjadi "Ramadan," bagiku logatnya lebih asik seperti bahwa aku menyebutnya.
Masih pada pagi dengan kicau merdu para roamer udara, aku hampir menyudahi tatapan lurus menuju alam indah nan nikmat begitu saja. Namun, aku masih saja memikirkan beberapa hal yang membuat aku ingin sekali menulis beberapa kata seperti mereka. Mereka yang hebat menurutku, berhasil merangsang kemauanku untuk segara lebih memanfaatkan ruang blog ini agar menjadi tulisan yang bisa dikonsumsi dengan benar.
Aku sempat beradu argumen dengan mereka, mengatakan bahwa memang blog ini aku ciptakan untuk mengisi segala kondisi random dari hati, bukan untuk mereka yang hanya suka menikmati.
Namun mereka bersikeras menampilkan hasil tulisan fiksi mereka yang telah siap dikonsumsi. Sungguh hal itu membuat nafasku memburu, mereka baru, namun lihai dengan diksi yang berhasil merenggut perhatianku, bahkan dengan mata yang berbinar aku mulai merajut kemauan untuk dapat beriringan dengan mereka itu. maka di sepetak kamar yang bertatapkan tembok biru, aku mulai merasa ingin berlari dan meninggalkan bangku penontonku, untuk mampu produktif memanfaatkan setiap jenis ungkapan di hati menjadi berbagai ribu bentuk ungkapan yang dapat dicicipi, Tentu setelah kelar skripsi.
"oalah, masih ya?" keluhan hati tanpa memperhatikan aba-aba dari pemiliknya.
Namun tidak perlu dijawab, karena jawabanya meski ditanya keempat kali pun masih tetap "masih Skripsi, hampir kelar," dan hampir kelar ini pun terus bergulir seiring berjalannya waktu. Namun apapun konsekwensi, aku masih mencoba terus sadar diri, agar prioritas terus dapat digaris bawahi.
Masih terbaring, namun memang kondisi dari pola tidurku sudah berantakan semenjak aku memiliki warung kopi, sebuah usaha idaman yang aku impi-impikan, Ditambah Ria, seseorang yang aku mengira bisa terus berseri di hati pergi begitu saja tanpa meninggalkan sisa-sisa kepingannya, setidaknya agar aku dapat merindu walau hanya sekali kedipan mata.
Aku ingin sekali merasakan badanku menempati tempat tidur untuk segera mampu terlelap, namun tetap saja mata ini terus dirangsang oleh otakku untuk memikirkan lebih banyak kata dan bahasa.
Ahh sudahlah, kali ini aku sudah pada puncaknya, ingin tidur. "Bangunkan aku saat adzan dzuhur ya!" sebuah ungkapan yang selalu aku perintahkan kepada Ria yang sangat setia terhadapku. Dan saat itu aku hanya bisa berkhayal dia mampu membangunkannya melalui angan dan do'a. Selucu itu aku mengharapkannya.
28 Ramadhan, aku tutup paginya dengan mimpiku.
Masih pada pagi dengan kicau merdu para roamer udara, aku hampir menyudahi tatapan lurus menuju alam indah nan nikmat begitu saja. Namun, aku masih saja memikirkan beberapa hal yang membuat aku ingin sekali menulis beberapa kata seperti mereka. Mereka yang hebat menurutku, berhasil merangsang kemauanku untuk segara lebih memanfaatkan ruang blog ini agar menjadi tulisan yang bisa dikonsumsi dengan benar.
Aku sempat beradu argumen dengan mereka, mengatakan bahwa memang blog ini aku ciptakan untuk mengisi segala kondisi random dari hati, bukan untuk mereka yang hanya suka menikmati.
Namun mereka bersikeras menampilkan hasil tulisan fiksi mereka yang telah siap dikonsumsi. Sungguh hal itu membuat nafasku memburu, mereka baru, namun lihai dengan diksi yang berhasil merenggut perhatianku, bahkan dengan mata yang berbinar aku mulai merajut kemauan untuk dapat beriringan dengan mereka itu. maka di sepetak kamar yang bertatapkan tembok biru, aku mulai merasa ingin berlari dan meninggalkan bangku penontonku, untuk mampu produktif memanfaatkan setiap jenis ungkapan di hati menjadi berbagai ribu bentuk ungkapan yang dapat dicicipi, Tentu setelah kelar skripsi.
"oalah, masih ya?" keluhan hati tanpa memperhatikan aba-aba dari pemiliknya.
Namun tidak perlu dijawab, karena jawabanya meski ditanya keempat kali pun masih tetap "masih Skripsi, hampir kelar," dan hampir kelar ini pun terus bergulir seiring berjalannya waktu. Namun apapun konsekwensi, aku masih mencoba terus sadar diri, agar prioritas terus dapat digaris bawahi.
Masih terbaring, namun memang kondisi dari pola tidurku sudah berantakan semenjak aku memiliki warung kopi, sebuah usaha idaman yang aku impi-impikan, Ditambah Ria, seseorang yang aku mengira bisa terus berseri di hati pergi begitu saja tanpa meninggalkan sisa-sisa kepingannya, setidaknya agar aku dapat merindu walau hanya sekali kedipan mata.
Aku ingin sekali merasakan badanku menempati tempat tidur untuk segera mampu terlelap, namun tetap saja mata ini terus dirangsang oleh otakku untuk memikirkan lebih banyak kata dan bahasa.
Ahh sudahlah, kali ini aku sudah pada puncaknya, ingin tidur. "Bangunkan aku saat adzan dzuhur ya!" sebuah ungkapan yang selalu aku perintahkan kepada Ria yang sangat setia terhadapku. Dan saat itu aku hanya bisa berkhayal dia mampu membangunkannya melalui angan dan do'a. Selucu itu aku mengharapkannya.
28 Ramadhan, aku tutup paginya dengan mimpiku.






0 komentar:
Posting Komentar