Hai Guys!!

Hey, Folllow my tweet please: http://www.google.com/2005/gml/data.My Twitter .

Drum Corps Unsyiah

Drum Corps Unsyiah berhasil membawa pulang 4 piala dari Kejuaraan Marching Band Se-Sumatera/AKPAR Extravaganza II, Medan.

My Family

Yeah, this is My Big Family.

MERGER 2012

MERGER 2012 is Management of Regeneration 2012,Consist of EKM, PRODIS, PERBANKAN, PERUSAHAAN, dan PEMASARAN. "Sehati Peduli Sejiwa Beraksi"

May 2, is HARDIKNAS and my BornDay

Terimakasih kepada seluruh keluarga serta kerabat yang telah mengucapkan dan memberikan dosa serta kejutan kepada saya. Thanks!.

Sabtu, 02 Desember 2017

Ketikan Sore Tanpa Dasar

          Hurray!!! Tanda di dalam hati melambai, hanya sekedar terpintas menyemangati diri untuk lebih santai. Sore yang berbeda hari ini, saya menulisnya di tempat yang pernah meng-create berbagai kenangan dari masa kecil hingga kini kutumbuh dewasa. Keumala, tepat nama tempat itu Keumala. Tempat favorit saya menamakan pulang ketika saya hendak kesana, padahal tempat itu bukanlah tempat kelahiran saya ataupun tempat bermukin apalagi. Sekedar tempat asal Ibu saya berasal, dan kami menetap di ibu kotanya Provinsi ini.
          Lagi, hari ini ditemani easy listening playlist dari Payung teduh yang saya mainkan dari https://www.youtube.com/watch?v=fcOGGvKbH_I membuat mood saya ingin menulis apapun tentang apa sedang dirasa, dilihat, dan dikenang. Terkadang memang sih, masih terlintas sepucuk lirik dari Payung teduh - Untuk Wanita yang Sedang Dalam Pelukan membuat lirih. Tapi sayan udah sembuh, untuk kesekian kalinya, bahkan 'dia' penah berpesan untuk "jangan galau galau ka." Sedikit Banyak postingan tentang cinta terlihat 4L4Y. Tapi menurut saya, begitulah cara berjalannya, terlihat lebay, tapi ke hal yang berlebihan itu saja belum cukup mendeskripsikan semua hal yang menyangkut cinta, tapi kembali lagi kepada setiap orang yang menyikapinya, setiap orang berbeda caranya.
          Kota hujan bukan hanya terasa hujan di kotanya, bahkan di tempat saya saat ini langit terus mengucurkan airnya, dan momen ini membentuk perasaan bahwa hujan yang saat ini jatuh merupakan satu persen air, dan sembilan puluh sembilan persen selebihnya adalah kenangan. Dan saya Basah, basah oleh kenangan. Langit selalu gelap meski siang hari, sudah beberapa hari saya disini, cuaca akhir tahun yang wajar. Hanya pikiran dan khayalan saya saat ini terus berkelana dan memikirkan hal yang sudah tidak penting untuk dipikirkan. Bahkan dari awal hingga saya terus menulis saya tidak tau saya harus mengakhiri tulisan di penghujung senja ini menuju ke arah apa?!
          Berbicara mengenai kenangan, tidak ada yang istimewa jika kenangan itu coba untuk dihapuskan, kecuali memang jika kengangan itu menyakitkan dan pahit untuk coba dirasa kembali, akan tetapi selagi kita mempunyai yang namanya bersyukur, apapun merk dari kenangan itu akan terus menyeimbangi dengan realita untuk membentuk dimasa depan dengan harapan menjadi lebih baik.
          Cukup bungkus dan simpan yang rapi, dan kenangan itu akan jadi lebih berarti, karena itu tidak akan pernah terulang kini dan nanti. Saat ini saya terus mencari momen pas untuk bisa terus menyimpannya dengan rapih, tapi kenapa masih? Saya rasa sudah cukup. Harus segaera berakhir larut, agar kembali mudah untuk merajut. Pelajaran sangat berarti yang berhasil saya kutip, tidak akan pernah belajar menghargai dari kedatangan ketika kita tidak pernah merasa kehilangan. Maka kondisi sakit ada hanya untuk kita bisa belajar cara bangkit, tidak terus terpuruk hingga akhirnya menuju pada hal yang buruk. Dan terus berharap setiap kondisi mengajari diri menjadi lebih berarti kini hingga nanti.

Rabu, 29 November 2017

Teruntukmu yang Telah Berlalu

          Februari, menjadi awal keindahan itu dimulai. Terlalu lama beku tanpa sadar waktu.
Kini April, Aku dengan Kamu. Mudah saja, warna jingga kelam bermetamorfosa menjadi warna terang seolah takkan pernah padam.

            Payung teduh, Untuk Wanita yang Sedang Dalam Pelukan berhasil diunduh, tanda cinta dengan kondisi saat itu berlabuh. Aku mudah patuh, karena hati memang benar-benar sudah jatuh, jatuh dalam pelukannya wanita rapuh, tapi sebenarnya sangat kukuh.

          2 Mei 2017, tanda waktu kelahiranku berulang, ucapan-ucapan manis darinya jelas tidak terhadang, sudah kupastikan arah cinta ini membentang. Katanya aku seorang pria yang untuk semenitpun tidak lupa memuja, bahkan nyaris bak pujangga, seorang pria yang telah buta karena warna (jingga). Dan kupastikan sekali lagi cinta kita tidak akan pernah kadaluarsa.

          Senyuman bersama, saat dialog ketikan kata menyapa. Memang benar hanya sekedar KATA, tapi menggambarkan sejuta MAKNA. Bahkan aku sempat lupa bahwa kita tidak sedang dalam hamparan yang sama. Tapi emang begitulah adanya.

           Ramadhan tiba, menjadi cara kita mengenal sesama pula, hingga tidak lupa kita punya satu Rabbana dan wajib syukur pada-Nya.

           Hingga hari Fitrah dinanti, kita berbagi keceriaan kembali, kamu Cantik dengan sandang baru yang kamu miliki. Ucapan syukurku pun kembali terlantun di Hati.

           Kita terus berjalan, memastikan kita tidak saling melupakan. Hanya saja sepertinya aku mulai kurang bersyukur, hingga akhirnya terbentur. Aku lebur.

           Padahal ribuan dilema sudah pernah dipelajari, tapi kenapa kini hanya dengan satu kondisi bisa sangat menyakiti? Apakah kita lupa cara bertahan diri? atau rasa yang pernah ada telah ditelan tirani? Sepertinya emang ego kita sudah tidak bisa menyikapi!

           November, kau memilih menutup cerita, membiarkan cinta tidak panjang usia. Dan lagi bagiku kamu tetap berharga, maka tidak perlu memperpanjang cerita untuk lebih menyakitinya (lebih lama). Dan aku memilih dewasa untuk membiarkan kamu bahagia dengan tidak bersama, padahal sejatinya terluka. Bersenang-senanglah, Karena tidak akan ada AKU lagi, semoga kamu menikmati.

           Inilah akhir dari perjalanan cinta secuil cupcake yang pernah aku agungkan dulu, kini kusiap melepaskanmu dengan nada sendu, berharap tidak tersiksa oleh rindu, dan kembali menyimpan dengan rapih bahwa kita pernah satu. Teruntukmu Ira Namira yang telah berlalu.

Selasa, 11 April 2017

Warna warni dalam secuil Cupcake

Cupcake, teks singkat yang saya temui setiap membuka sebuah kotak dialog favorit pada media sosial anonim. Februari merupakan awal dari percakapan singkat itu dimulai, tidak menaruh perhatian besar, hanya ketika tiga hari berjalan barulah username cupcake itu berpindah kekotak dialog favorit sebelah. Entah mengapa, meski dialog singkat yang saya lontarkan pada pagi buta, dan balasan tersedia saat senja berakhir menjadi sebuah perasaan nyaman seperti sebuah sihir yang menenggelamkan logika. Tanpa sadar saya sudah terlarut didasar warnanya. Suatu hari, tiba ketika balasan panjang yang berakhir dengan inisiasi untuk memulai dialog pada media sosial resmi dengan alasan lebih mengenal sosok cupcake yang berhasil menyihir sebagian ruang hati ini.

Tidak tahu mengapa, tidak pernah ada dalam dunia nyata, tapi bentuk maya bahkan lebih dari sekedar membentuk rasa. Tidak terasa diawal, tapi segera terbentuk pada prosesnya.
Memang benar, kenyamanan bahkan membuat rasa semakin kental untuk buta akan kenyataan yang ada. Hingga dalam jangka merangkak menuju bulan ke bulan telah dilewati dengan berbagai pembahasan, tidak pernah ada dalam bentuk nyata, tapi setiap deskripsi terbungkus teks yang tersimpan dalam sebuah ruang dialog terbungkus rapi, gelap terang pernah menghujaninya, tapi rasa kami lebih sekedar menghangatkan dan mencairkan dinginnya gelap. Hanya karena secuil cupcake ini hari-hari telah menjadi lebih berarti, bahkan daftar orang berarti secara serta merta bertambah dengan sendirinya. Sastra saya yang tidak ada apa-apanya tidak bakal sanggup mendeskripsikan banyak hal warna-warni dalam secui cupcake. Maka, hal terpenting tetap bersyukur dan cukup keep apa-apa yang baik untuk disimpan! dan pada akhirnya tetap berjalan tanpa henti untuk terus mencari warna-warni dalam secuil Cupcake.

Senin, 10 April 2017

Kisah 10 April 2017

Untuk Wanita yang Sedang Dalam Pelukan..

Tak terasa gelap pun jatuh
Diujung malam menuju pagi yang dingin
Hanya ada sedikit bintang malam ini
Mungkin karena kau sedang cantik cantiknya

Lalu mataku merasa malu
semakin dalam ia malu kali ini
Kadang juga ia takut
Tatkala harus berpapasan ditengah pelariannya

Dimalam hari
Menuju pagi
Sedikit Cemas
Banyak Rindunya


Tidak banyak deskripsi serta argumen lainnya pada post kali ini. Hanya kaerna bait lagu di atas sudah menggambarkan apa yang ingin saya sampaikan. Hanya sedikit tergambar suasana dilagu tersebut sedang mengiang riang di hati. Payung Teduh kembali menjadi backsound dari awal kisah 10 April 2017. Semoga tetap pada garis dan menuju ke arah yang lebih baik, amin.


Kamis, 23 Februari 2017

Hari Ini

,BNA, 23/02/17

Dingin Kurasa, tapi panas menyala.
Rasa Kucinta sedang tidak seperti biasa.

Selalu terpikir seperti arus kencang mengalir.
Kopi hari ini nikmat meski cuma secangkir.
Bukan kikir, hanya saja secangkir telah menghembuskan nikmat tiada akhir.
Setia diseruput dari panas hingga dingin segelas cangkir.

Hari ini, Kopi beralas cinta,
Untuk penikmatnya yang setia.

Rabu, 22 Februari 2017

Buta Beku Tak Tertata Bisu

BNA, 22/02/17

Menerka Langit tidak semudah  menginjak bumi. Tidak guna bahagia hanya dari sekedara rasa.
Bahagianya hanya menjadi cerita di hati buta. Rana dalam bentuk cinta, tapi sebenarnya duka berwujud bahagia.
Pilu?
Atau Cukup Tersipu?
Berlari?
Atau Tertunduk Mati?
Waktu, tertutupkah jawaban untuk tahu?
Elaborasi tak henti jika tinta tak berujung mati.
Sediakalapun tidak beri ampun meski awal selembut embun.
Pena bertinta emas pun tak seindah lamun ceritamu terlantun.
Berfikir tentang ""kita," tapi hanya buta akan dirinya.
Buta, Beku Tak Tertata Bisu.

Jumat, 03 Februari 2017

Tentang Segelas Kopi

Tersadar pagi ini tampak beda, atmosfir yang dirasakan sedikidit banyaknya lebih asing terasa.. Abdya, Aceh Barat Daya, tepatnya Blang Pidie, tempat yang semalam saya dan keluarga tiba untuk menghadiri acara keluarga.
Bukan tentang acara keluarga yang saya bahas dan bukan mengenai wilayah yang sedang saya diami saat memposting tulisan ini, akan tetapi mengenai kegiatan yang saya jalankan tanpa sadar menjadi suatu kebiasaan. Dikatakan 'kebutuhan' juga bukan kebutuhan, ya... memang sebuah kebiasaan dan serasa tidak lengkap jika melewatinya.
Kopi Robusta, Surin Kupi, Blang Pidie
"Ngopi," Banyak dikatakan kegiatan sia-sia yang disebut orang-orang, karena (hampir) seluruh orang yang menikmatinya melewatkan banyak waktu produktif hanya untuk menikmati secangkir Kopi. Disisi penikmatnya, kegiatan terssebut bukan membuang waktu produktifnya, hanya saja dia sedang memproduktifkan waktunya untuk menikmati kepuasan yang dihadirkan secangkir kopi. Saat ini saya ber-opini bukan karena saya sang ahi terhadap minuman yang sangat saya gemari tersebut, hanya saja penting bagi saya untuk mengutarakan hal ini agar yang bertanya dan beragumen diseberang sisi lainnya paham akan hal yang saya rasa.
Bahkan sempat suatu waktu beberapa orang lainnya mengatakan bahwa; "Tidak Ngopi sehari gak mati kan?" hehehe
yaa Gak lah, cuma serasa otak mati suri! ntah itu cuma perasaan saya aja yang terlalu baper atau memang sempat dirasakan yang lainnya.
Tentang Secangkir Kopi, terkadang seperti memberikan teman lebih.. disaat bercengkerama dengan orang-orang yang tidak akrab dikenal, kopi menghadirkan keakraban lebih dan menyambung berbagai pembahasan satu-ke pembahasan selanjutnya, yang kemudian membetuk menjadi orang-orang akrab yang dikenal. Ketika bersama teman, kopi menjaga setiap beat pembahasan menjadi lebih menarik, semakin disedu makin seru untuk mengobrol dengan padu, bahkan sempat lupa larut sudah jatuh menghadap subuh. Kemudian, Inspirasi kreatif juga bisa dihasilkan para creator hanya dengan menghadap mesin ketik digitanya ditemani setiap seduhan dari secangkir kopi.
Terlebih, Ngopi sudah seperti budaya bagi sebagian besar rakyat aceh, tua muda, cowok cewek, pukul rata sehari minimal sekali pasti menyeduh kopi. Disamping itu, Warung Kopi juga berselemak di Aceh.
Hari ini saya memposting tulisan ini juga sambil menyeduh secangkir Kopi nikmat milik Surin Kupi, yang terletak di JL. Ladang Neubok, Blang Pidie. Saya Ngopi bukan dalam artian belum minum kopi seharian, akan tetapi saya seperti menginginkan 'Ngopi' saja dan bertemu para penikmatnya yang lain. mempunyai kebahagia tersendiri mengenai Secangkir Kopi yang bisa diseduh bersama para penikmatnya yang lain, memang saya datang sendiri, tapi seperti yang saya katakan bahwa 'Ngopi' kembali membuktikan bahwa saya kembali menciptakan hubungan silaturahmi dengan orang-orang yang tidak akrab dikenal untuk bermetamorfosa menjadi orang yang akrab dikenal.
Begitulah secangkir dan segelas kopi memperlakukan penikmatnya.