Rabu, 29 November 2017

Teruntukmu yang Telah Berlalu

          Februari, menjadi awal keindahan itu dimulai. Terlalu lama beku tanpa sadar waktu.
Kini April, Aku dengan Kamu. Mudah saja, warna jingga kelam bermetamorfosa menjadi warna terang seolah takkan pernah padam.

            Payung teduh, Untuk Wanita yang Sedang Dalam Pelukan berhasil diunduh, tanda cinta dengan kondisi saat itu berlabuh. Aku mudah patuh, karena hati memang benar-benar sudah jatuh, jatuh dalam pelukannya wanita rapuh, tapi sebenarnya sangat kukuh.

          2 Mei 2017, tanda waktu kelahiranku berulang, ucapan-ucapan manis darinya jelas tidak terhadang, sudah kupastikan arah cinta ini membentang. Katanya aku seorang pria yang untuk semenitpun tidak lupa memuja, bahkan nyaris bak pujangga, seorang pria yang telah buta karena warna (jingga). Dan kupastikan sekali lagi cinta kita tidak akan pernah kadaluarsa.

          Senyuman bersama, saat dialog ketikan kata menyapa. Memang benar hanya sekedar KATA, tapi menggambarkan sejuta MAKNA. Bahkan aku sempat lupa bahwa kita tidak sedang dalam hamparan yang sama. Tapi emang begitulah adanya.

           Ramadhan tiba, menjadi cara kita mengenal sesama pula, hingga tidak lupa kita punya satu Rabbana dan wajib syukur pada-Nya.

           Hingga hari Fitrah dinanti, kita berbagi keceriaan kembali, kamu Cantik dengan sandang baru yang kamu miliki. Ucapan syukurku pun kembali terlantun di Hati.

           Kita terus berjalan, memastikan kita tidak saling melupakan. Hanya saja sepertinya aku mulai kurang bersyukur, hingga akhirnya terbentur. Aku lebur.

           Padahal ribuan dilema sudah pernah dipelajari, tapi kenapa kini hanya dengan satu kondisi bisa sangat menyakiti? Apakah kita lupa cara bertahan diri? atau rasa yang pernah ada telah ditelan tirani? Sepertinya emang ego kita sudah tidak bisa menyikapi!

           November, kau memilih menutup cerita, membiarkan cinta tidak panjang usia. Dan lagi bagiku kamu tetap berharga, maka tidak perlu memperpanjang cerita untuk lebih menyakitinya (lebih lama). Dan aku memilih dewasa untuk membiarkan kamu bahagia dengan tidak bersama, padahal sejatinya terluka. Bersenang-senanglah, Karena tidak akan ada AKU lagi, semoga kamu menikmati.

           Inilah akhir dari perjalanan cinta secuil cupcake yang pernah aku agungkan dulu, kini kusiap melepaskanmu dengan nada sendu, berharap tidak tersiksa oleh rindu, dan kembali menyimpan dengan rapih bahwa kita pernah satu. Teruntukmu Ira Namira yang telah berlalu.

0 komentar:

Posting Komentar