Sungguh tak terbayangkan, hal yang sama sekali aku enyahkan dari isi pikiran dan sangat bertolak pada batin sesungguhnya tetapi malah terjadi dan menimpaku pada situasi dimana saat itu aku sedang menggeluti sebuah pamor yang bisa dikatakan situasi dima aku sedang terlirik oleh publik pada suatu ruang lingkup.
Pada hal yang bersamaan, aku mendengar satu gagasan dari seorang senior yang juga saat itu membantu membimbing organisasi pada sebuah sekolah menengah negeri tempat aku belajar. Isi dari kata-katanya adalah: "jangan terlalu semangat, nanti bahkan akan gagal sekalipun", sebutnya dengan sigap setelah mendengarkan paparanku mengenai sebuah acara yang akan au arungi bersama organisasi pada sekolah tersebut, acara ini sudah lumrahnya diadakan setiap tahunnya untuk memberikan penghargaan serta memberikan kepuasan tersendiri kepada senior-senior kelas akhir yang hendak berpisah, jadi tidak heran sikap semangat serta inovasi-inovasi dituangkan unutk dilakukannya demi keberhasilan nyata. Tapi, kata-kata tersebut malah diucapkan, tentu ada fungsi tersendiri dari kata-kata itu..
Setelah menuju 65% persiapan menuju sucsess full kami kembali menemukan berbagai masalah yang diantaranya lansung menimpa aku. Saat itu aku sedang survei lapangan untuk mengadakan Out Bond pada sebuah organisasi keagamaan disekolahku. Sepulang dari lokasi tempat akan diadakannya out bond , musibah menyakitkan menimpaku, yaitu "Beserak" di jalan raya!
ironinya, akibat kejadian tersebut membuat aku harus belajar di rumah dan segempal acara di tangan harus di opor kepada teman yang sangat kupercaya, siitam! seminggu setelah aku mulai beranjak kembali ke sekolah, aku temui secercah sumbu kesalahan pada sistematis acara tersebut, yang bahwa acara tersebut sebelumnya tidak sedemikian yang aku lihat sekarang. "ACARA PERPISAHAN PAKE KEYBOARD!!" kaget kegetaran nafas saat mendengar acara telah di aduk-aduk. "INI SUNGGUH ACARA PESTA PERNIKAHAN!! BUKAN PERPISAHAN!!", lantak aku dengan kegeraman ingin menghampiri oknum staf pada sekolah tersebut.. tak percaya lagi, mereka hanya memberikan 2 pilihan: perpisahan dengan keyboard atau hanya perlepasan di Mushola.. ingin sekali aku menambahkan satu lagi pilihan yaitu perpisahan di gedung dan menggunakan peralatan musik lengkap, Damn, sia-sia seperti bicara pada tembok.
pilihan sulit, karena sesungguhnya pilihannya tidak ada.. apadaaya aku berusaha meyakinkan abang-abang senior kelas akhir dengan mengatakan bahawa kami akan berusaha memperjuangkan acara unutk mereka meski ILEGAL dan tidak semewah acara perpisahan pada seestinya. saat itu aku dan kawan-kawan memilih acara dimushola dengan kami tidak sama sekali menjadi panitia, hanya guru-guru saja..
Mulailah sebuah planning baru, acara ilegal dibantu mantan KETOS tahun lalu yang menjadi acuan aku bekerja selama di OSIS dan unutk mereka para pejuang-pejuang revolusioner sekolah yang membuang waktu mereka diperiode sebelumnya demi kepentingan bersama, dan paling aku banggakan yaitu mantan KETOS tahun lalu itu, karena dia semangatku tetap ada sampir akhir masa jabatan.
| Sebuah logo karya Ade Aulia tentang OSIS ILEGAL |
Sejak saat itu, aku mulai berpikir, untuk apa ada OSIS jika semua aspirasi siswa cuma pelengkap penderita sekolah aja. untuk apa OSIS jika acara-acara harus sebagaimana keinginan guru, sedangkan OSIS itu adalah organisasi penyampai aspirasi siswa dan guru hanya menajadi pembimbing bukan telak mengatur dan memerintahkan OSIS unutk menuruti semua kenginan sebelah pihak dan bertolak belakang dengan kebutuhan siswa, padahal kegiatan terseb ut masih bersifat positif.
Apa boleh buat, semua telah terjadi, sekarang telah menjadi kegiatan yang akan menjadi kenangan suram semasa hidup dan akan menjadi pembelajaran untuk kedepannya. Akhirnya kami berhasil dan sukses mengadakan Perpisahan kelas 3 di sebuah gedung yang berada di pusat kota Banda Aceh dengan konsep Pentas Seni (PENSI) dengan tema "One Day for All Days" dengan bantuan maksimal dari abang-abang senior yang hendak berpisah.













