Pergilah sedih
pergilah resah
jauhkanlah aku dari segala prasangka
Lihatlah segalanya lebih dekat, dan kau bisa menilai lebih bijaksana..
Masih ingatkah dengan lirik lagu yang pernah menjadi salah satu soundtrack film musikal yang terkenal dikalangan anak-anak bahkan orang dewasa juga tidak kalah menyukai film tersebut. Film yang disutradarai oleh Riri Riza ini berjudul "Petualangan Sherina," tentunya pemeran utamanya adalah Sherina Munaf.
Tapi yang menjadi pembahasan pada postingan kali ini bukan mengenai film musikal tersebut, melainkan masalah dari kebanyakan individu yang lansung menilai sesuatu berdasarkan apa yang dilihatnya saat pertama kali, sehingga berkesimpulan seperti apa yang dilihatnya. Hal ini membuat suatu penilaian terlalu instan untuk disimpulkan hanya melalui satu momen yang tampak saja. Contohnya, ketika saat pengalaman pertama sekali masuk bangku kuliah, kebetulan saat sepulang dari kampus ban motor si A bocor di persimpangan jalan yang tidak jauh dari kampus, disaat bersamaan pula si A berjumpa dengan si B yang merupakan teman satu kelasnya jam pagi tadi. Tentu si A memanggil si B dengan suara keras mengaharapkan bantuan dari si B. Tapi si B hanya menoleh dan mengucapkan maaf dia tidak bisa membantu dan segera memacu motornya dengan lebih cepat sehingga tinggalah si A sendiri di persimpangan jalan dengan kondisi yang terik siang itu.
Setelah itu, si A segera mendorong motornya dengan raut wajah yang berkerut serta menggerutu di dalam hati bahwa ternyata si B itu adalah jenis orang yang apatis, tidak peduli sesama, "rugi aja sudah mengikuti masa orientasi bersama-sama, ternyata kompak hanya tinggal dimulut hari orientasi ajah, huft dech," begitulah kira-kira perasaannya yang hancur seketika saat itu.
Hari selanjutnya, si A mendapati satu baris kotak absen yang kosong setelah namanya yaitu nama si B, yang tergambar di pikirannya hanyalah manusia apatis saat melihat nama si B muncul waktu itu, si A pun menyempatkan diri untuk bercerita kepada si C yang duduk disebelahnya mengenai sikap sebenarnya si B versi si A, dan si C pun berkesimpulan bahwa "Oh si B itu begitu ternyata orangnya."
sepulang si A dari kampus, si A menyempatan diri membeli makan siang terlebih dahulu dan melalui lorong rumah si B yang di persimpangan lorong terdapat sekarangan buka duka cita, tertuliskan nama ibu dari si B di papan tersebut.
Seminggun kemudian, si B masuk kelas yang di kelas tersebut terdapat si A dan C, semua orang yang ada di dalam kelas melihat si B dengan ujung mata yang penuh sorotan kesal terhadap si B. Ternyata si C sudah cerita kesemua orang yang ada di dalam kelas mengenai sikap si B berdasarkan versi si A! si B mulai bertanya-tanya dalam hati, mengapa semua orang mulai memusuhinya dengan sebegitu tiba-tibanya?
Seketika pula si A mulai tahu bahwa dia telah salah, karena menurut kabar saat ban motor si A bocor, si B mendapati telepon dari keluarganya bahwa ibu dari si B dalam keadaan sekarat di Sebuah Rumah Swasta dekat rumah si A, oleh karena sebab itu si B tidak bisa menolong si A saat itu.
Penilaian instan dari si A sudah menimbulkan kerusakan hati dari setiap orang yang memandang si B, hal yang bersifat pribadi dipublish dengan data yang tidak akurat atau tidak pasti menjadikan berita yang dihasilkan informan bersifat fiktif, dan itu adalah perbuatan yang dapat digolongkan sebagai pembodohan publik.
Dari cerita di atas dapat kita ambil pelajaran bahwa menyimpulkan sikap seseorang tidak cukup hanya dengan sekali, tapi perlu berkali-kali dan lihatlah lebih dekat!
pergilah resah
jauhkanlah aku dari segala prasangka
Lihatlah segalanya lebih dekat, dan kau bisa menilai lebih bijaksana..
Masih ingatkah dengan lirik lagu yang pernah menjadi salah satu soundtrack film musikal yang terkenal dikalangan anak-anak bahkan orang dewasa juga tidak kalah menyukai film tersebut. Film yang disutradarai oleh Riri Riza ini berjudul "Petualangan Sherina," tentunya pemeran utamanya adalah Sherina Munaf.
Tapi yang menjadi pembahasan pada postingan kali ini bukan mengenai film musikal tersebut, melainkan masalah dari kebanyakan individu yang lansung menilai sesuatu berdasarkan apa yang dilihatnya saat pertama kali, sehingga berkesimpulan seperti apa yang dilihatnya. Hal ini membuat suatu penilaian terlalu instan untuk disimpulkan hanya melalui satu momen yang tampak saja. Contohnya, ketika saat pengalaman pertama sekali masuk bangku kuliah, kebetulan saat sepulang dari kampus ban motor si A bocor di persimpangan jalan yang tidak jauh dari kampus, disaat bersamaan pula si A berjumpa dengan si B yang merupakan teman satu kelasnya jam pagi tadi. Tentu si A memanggil si B dengan suara keras mengaharapkan bantuan dari si B. Tapi si B hanya menoleh dan mengucapkan maaf dia tidak bisa membantu dan segera memacu motornya dengan lebih cepat sehingga tinggalah si A sendiri di persimpangan jalan dengan kondisi yang terik siang itu.
Setelah itu, si A segera mendorong motornya dengan raut wajah yang berkerut serta menggerutu di dalam hati bahwa ternyata si B itu adalah jenis orang yang apatis, tidak peduli sesama, "rugi aja sudah mengikuti masa orientasi bersama-sama, ternyata kompak hanya tinggal dimulut hari orientasi ajah, huft dech," begitulah kira-kira perasaannya yang hancur seketika saat itu.
Hari selanjutnya, si A mendapati satu baris kotak absen yang kosong setelah namanya yaitu nama si B, yang tergambar di pikirannya hanyalah manusia apatis saat melihat nama si B muncul waktu itu, si A pun menyempatkan diri untuk bercerita kepada si C yang duduk disebelahnya mengenai sikap sebenarnya si B versi si A, dan si C pun berkesimpulan bahwa "Oh si B itu begitu ternyata orangnya."
sepulang si A dari kampus, si A menyempatan diri membeli makan siang terlebih dahulu dan melalui lorong rumah si B yang di persimpangan lorong terdapat sekarangan buka duka cita, tertuliskan nama ibu dari si B di papan tersebut.
Seminggun kemudian, si B masuk kelas yang di kelas tersebut terdapat si A dan C, semua orang yang ada di dalam kelas melihat si B dengan ujung mata yang penuh sorotan kesal terhadap si B. Ternyata si C sudah cerita kesemua orang yang ada di dalam kelas mengenai sikap si B berdasarkan versi si A! si B mulai bertanya-tanya dalam hati, mengapa semua orang mulai memusuhinya dengan sebegitu tiba-tibanya?
Seketika pula si A mulai tahu bahwa dia telah salah, karena menurut kabar saat ban motor si A bocor, si B mendapati telepon dari keluarganya bahwa ibu dari si B dalam keadaan sekarat di Sebuah Rumah Swasta dekat rumah si A, oleh karena sebab itu si B tidak bisa menolong si A saat itu.
Penilaian instan dari si A sudah menimbulkan kerusakan hati dari setiap orang yang memandang si B, hal yang bersifat pribadi dipublish dengan data yang tidak akurat atau tidak pasti menjadikan berita yang dihasilkan informan bersifat fiktif, dan itu adalah perbuatan yang dapat digolongkan sebagai pembodohan publik.
Dari cerita di atas dapat kita ambil pelajaran bahwa menyimpulkan sikap seseorang tidak cukup hanya dengan sekali, tapi perlu berkali-kali dan lihatlah lebih dekat!
Penglihatan oleh mata tidak akan pernah berarti ketika pikiran kita buta!













.jpg)























