Hai Guys!!

Hey, Folllow my tweet please: http://www.google.com/2005/gml/data.My Twitter .

Drum Corps Unsyiah

Drum Corps Unsyiah berhasil membawa pulang 4 piala dari Kejuaraan Marching Band Se-Sumatera/AKPAR Extravaganza II, Medan.

My Family

Yeah, this is My Big Family.

MERGER 2012

MERGER 2012 is Management of Regeneration 2012,Consist of EKM, PRODIS, PERBANKAN, PERUSAHAAN, dan PEMASARAN. "Sehati Peduli Sejiwa Beraksi"

May 2, is HARDIKNAS and my BornDay

Terimakasih kepada seluruh keluarga serta kerabat yang telah mengucapkan dan memberikan dosa serta kejutan kepada saya. Thanks!.

Kamis, 15 Februari 2018

Gaya Bahasa

Akhir-kahir ini, saya merasakan bahwa beberapa dari postingan yang saya bagikan menunjukkan adanya berbagai gaya bahasa yang tidak stabil. ahahah, terkadang sok puitis, terkadang menjadi sok bijak, terkadang baku tidak menentu. Pada postingan kali ini, sayang hanya ingin menyampaikan mengenai berbagai postingan saya terkadang tidak mendasar, akan tetapi juga saya memposting sesuai dengan susana hati dan kondisi yang sedang terjadi. Saya bukan seseorang yang ingin eksis dengan berbagai tulisan saya, apalagi menjadi seseorang yang ahli dalam sastra, karena memang sebenarnya itu bukanlah expert saya.

Jika mau dibandingkan dengan penulis, jauh dari kata bagus untuk menilai saya sebagai penulis, karena sejujurnya memang bukan penulis profesional dan memiliki karakter dari setiap kata serta alur pada setiap paragrafnya. Saya hanya memposisikan diri sebagai orang yang hanya hobi mengungkapkan berbagai kondisi dan keingin saya saja. Karena pada suatu postingan saya yang sangat lampau, saya sempat menyampaikan bahwa, mengabadikan moment bukan hanya melalui cetak gambar, tapi juga bisa melalui tulisan, agar kelak saya bisa kembali membacanya dan mungkin bisa dipetik pelajaran dari kondisi saya saat menulis postingan tertentu.

Jika diperhatikan, gaya bahasa saya tidak pernah spesifik, itu dikarenakan tingkatan dari gaya bahasa saya akan berubah sesuai dengan emosi yang saya dapatkan. terkadang saya mengambil gaya bahasa dari daerah tertentu, terkadang kebetulan menemukan rima yang cocok, terkadang menjadi lebih naratif dan deskriptif.
kesimpulannya, apa yang saya rasakan akan saya turut sertakan dalam gaya bahasa dari setiap postingan.
Dan saat ini, saya sedang tidak dalam kondisi emosi yang merujuk pada kondisi spesifik alias normal. ahahaha


Selasa, 13 Februari 2018

Untuk Mereka

Baru saja akhir-akhir ini saya merasakan terhadap lambatnya berjalan waktu, baiknya adalah tugas dari preoritas utama bisa diberdayakan untuk memperbaiki hasil nantinya, semoga saja amin. Namun keseharian tetap berjalan dengan semestinya, saya tidak merasa terjadi kekosongan meski dia sudah 2 hari lebih tidak menyapa. Nah, saya sudah merasa menghilangkan rasa, tapi mengapa pada setiap postingan belakangan ini selalu terselip 'dia' disetiap potongan kata.

Ahhh sudahlah, itu semua sudah berlalu. Ditambah beberapa waktu tadi bahwa seseorang yang sempat menghangatkan jiwa yang baru saja tumbang ini, mengatakan hal yang sedikit mengecewakan. Namun lagi-lagi itu adalah hal yang baik dan melegakan, karena tidak ada yang lebih baik dari sebuah kejujuran kaan.

Setidaknya waktu, sedikit demi sedikit mulai mengungkapkan hasil dari setiap proses, maka proses perlu diperlakukan dengan baik agar menuai hasil yang baik pula. Dan hari ini, biarpun saya merasa masih kurang maksimal terhadap hal tersebut, setidaknya saya sudah mulai berusaha dan membuka mata agar tidak meraba masa depan dengan kondisi buta.

Hari ini, saya kembali terus menyuarakan motivasi untuk diri, agar harapan orang tua tercinta tidak menjadi lirih sendu di waktu senja. Bahkan, perlu rasanya berjanji pada diri sendiri, bahwa selalu ingat bahwa luka terperih sebenarnya bukan dari cinta yang belum lah pasti adanya saat ini, bukan dari rasa yang saya rasa singgah sesaat dikarena zona nyaman terus meresapi, namun luka itu berasal dari pribadi yang tidak cukup presisi mematangkan langkah-langkah untuk menggapai harapan dari orang yang sebenarnya sudah pasti sangat mencintai Kita sedari dulu, bahkan mencintai hingga takkan terjawab batasnya sampai bila-bila.
Merekalah sebenarnya yang patut diperjuangkan, dan merekalah orang tua kita.

Minggu, 11 Februari 2018

Saatnya Berpindah

Pengalaman mebuktikan, jika saat beranjak dari kotak duka akan rasa yang terus berlarut lama, maka akan segera membuat kita jatuh dan merasakan sulit bangkit untuk kesekian kalinya, padahal jika dipikirkan, berbagai kondisi buruk lainnya pernah dihadapi, namun mengapa pada kondisi yang sedikit lebih ringan dapat membuatnya lebih terasa berguncang.

Jawaban kongkrit juga ditemukan dari berbagai kondisi, saat mendengarkan pembicaraan disana kemari, ada beberapa yang sempat merekat yaitu sebuah pembenaran yang dialami oleh diri ketika mempunyai kenangan manis yang masih dalam kondisi cinta, ada baiknya ketika kondisi sudah tidak sesuai dengan apa yang diharapkan, maka biarkanlah kenangan tersebut tetap menjadi sebagai kenangan, agar nantinya tidak harus dipaksakan. Karena pada suatu ketika ingin mengusakan kembalinya kondisi manis dari kenangan itu, ada beberapa hal-hal sudah tidak sama lagi, karena hal-hal yang sangat berpengaruh seperti rasa dan cinta memang tidak bisa dikondisikan untuk hadir dan meredam semaunya.

Kemudian, jika kondisi melupakan menjadi sangat berat, maka usaha lebih tinggi harus dicoba, seperti membuka hati, menghadirkan harapan baru, hingga meredam komunikasi kepada hal yang berkesinambungan dengan kondisi manis tersebut hadir kembali. Persiapkan diri agar lebih matang menerima yang sudah tidak jadi milik sendiri, syukuri berbagai kondisi yang sedang digenggami, agar nanti akan dewasa menghadapi kondisi-kondisi yang sudah tidak diinginkan hati.

Maka tulisan kali ini, bukan berupa mengajari kalian yang sebenarnya sudah sangat paham akan arti, namun hal ini hanya untuk mencoba memotivasi diri sendiri, agar dengan selesainya bait dari tulisan ini, menjadikan pribadi yang sudah memang benar-benar untuk mengakhiri.

Akan tetapi, bukan untuk dilupakan kenangan selama ini, hanya saja untuk berupaya mengakhiri kenangan tersebut pada kondisi yang manis beridiri, bukan berakhir pada hal yang nantinya mampu merubah manis menjadi hambar untuk dikenang oleh hati, dan bait diakhiri dengan terimakasih dan sampai jumpa nanti.


Sececar Penyemangat untukmu

Hai kau yang tidak terpaku, kuat dengan berbagai hal yang aku rasa berat untukku, namun itu tidak berlaku untukmu.
Berjalan dalam awal yang sempat kamu lupa seberat badai, dan hingga kini proses hampir menuju kata selesai.
Namun, sakitkah jika kini hanya tinggal sisa gerimis mulai bergemurai(?)
Patutkah kamu merintih hingga lalai(?)

Bahkan itu tidak sebanding dengan yang kamu impikan.
Karena merasa-rasakan beban hanya berujung menyakitkan, maka besarkan harapan agar tidak sekedar jadi angan, agar kamu siap jika badai lebih besar dari sekedar topan.

AA | BNA. Feb. 22, 2018 

Sabtu, 10 Februari 2018

Masih (?)

Di sela-sela rindu aku menjadi tidak menentu, nyanyikan kisah gambaran cinta masa lalu, dan merusak tembok kokoh hati tanpa malu, bahkan sudah terlalu letih untuk mendayu.
Sebongkah kayu, rayap menjadi lebih cepat membuatnya enyah, lah aku terlalu lambat bahkan hanya untuk sekedar rasa yg seharusnya sudah punah. Serasa pasrah, seinginnya hanya mencoba tak menyentuh tanah. tapi gundah, segegabah memilih ranting hati mudah patah.
Rumit dan sulit kata yang tiba sekejadiannya berkelit. Jika dikaitkan luka dalam itu bahaya hingga menderit, maka luka dikulit itu lebih dari sekedar sakit bak terparit. Haruskah aku pamit (Lagi) (!?)

Selasa, 06 Februari 2018

Simpulnya

Senja penutup hari ini kan segera tiba, kembali aku memastikan bahagia itu apakah berseberang dengan duka, atau memang sudah membekas luka. Pada sebenarnya, bersedih bukanlah sebuah gaya bahasa, hanya saya sedang sedikit membuang pilu yang baru saja terdengar untuk ditinggal jauh di seberang pulau sana.
Pun bukan tentang harus bertahan kan?
Tapi bagaimana bisa terus beranjak meski terlihat perlahan.
Jangan terlalu larut untuk takut saya merasa sakit, karena saya pria yang akan segera bangkit.
Saya punya kedua kaki untuk bertumpu, bahkan bisa dipastikan ketika kamu bukan hanya satu, maka kelak kan terjawab untuk sebuah bahagia yang padu.
Jangan juga terlalu takut mengungkit kenangan indah nan bahagia, karena suatu saat itu juga patut menjadi obat ketika rindu sedia nyata.
Dari setiap pesan, kamu punya harapan dari setiap alasan, kenapa dari sepekan hanya ada banyak pertanyaan, sebenarnya hanya untuk berujung pada satu kepastian.
Sekarang saya jauh lebih yakin, akan langkah sebenarnya agar dapat menerangi gelap layaknya lilin, dan dapat bermanfaat dengan kepastian dalam langkah yang saya ingin.

Minggu, 04 Februari 2018

Bahagia kan duka

Cukup bisa paham berkicau tanpa suara, berbicara tanpa kata, bertumpu tanpa makna, dan mu MAYA tidak akan pernah menjadi NYATA.
Sudikira kuberkata tak paham makna layak sansekerta, kuberbicara bukan arah langkah utama, hendaknya meluap-luap bak cinta yang berbunga-bunga. Mu berwarna, merah muda.
Tumbuh, rapuh, kan jatuh.
Mungkinmu baca hanya karena mu punya mata, tapi rasa kan terasa luka, mengecap ranjak duka, berperan tanpa aba.
Makna hanya ku dan Tuhan yang punya, dan mu hanya kan bertanya, apa tujuan dari ini semua.
Dan mu pernah jadi bahagia, meski kan tergantung duka.
Maka lupa, wujud dari rupa yang durjana, meski kan kubutuh bak syifa, hingga kelak tak kan perih terasa.
Bukan tega, hanya mu pernah bertindak dalam pinta, akibat layak adalah tersiksa, maka berujarlah tetap dalam harap dan doa.