Jumat, 03 Februari 2017

Tentang Segelas Kopi

Tersadar pagi ini tampak beda, atmosfir yang dirasakan sedikidit banyaknya lebih asing terasa.. Abdya, Aceh Barat Daya, tepatnya Blang Pidie, tempat yang semalam saya dan keluarga tiba untuk menghadiri acara keluarga.
Bukan tentang acara keluarga yang saya bahas dan bukan mengenai wilayah yang sedang saya diami saat memposting tulisan ini, akan tetapi mengenai kegiatan yang saya jalankan tanpa sadar menjadi suatu kebiasaan. Dikatakan 'kebutuhan' juga bukan kebutuhan, ya... memang sebuah kebiasaan dan serasa tidak lengkap jika melewatinya.
Kopi Robusta, Surin Kupi, Blang Pidie
"Ngopi," Banyak dikatakan kegiatan sia-sia yang disebut orang-orang, karena (hampir) seluruh orang yang menikmatinya melewatkan banyak waktu produktif hanya untuk menikmati secangkir Kopi. Disisi penikmatnya, kegiatan terssebut bukan membuang waktu produktifnya, hanya saja dia sedang memproduktifkan waktunya untuk menikmati kepuasan yang dihadirkan secangkir kopi. Saat ini saya ber-opini bukan karena saya sang ahi terhadap minuman yang sangat saya gemari tersebut, hanya saja penting bagi saya untuk mengutarakan hal ini agar yang bertanya dan beragumen diseberang sisi lainnya paham akan hal yang saya rasa.
Bahkan sempat suatu waktu beberapa orang lainnya mengatakan bahwa; "Tidak Ngopi sehari gak mati kan?" hehehe
yaa Gak lah, cuma serasa otak mati suri! ntah itu cuma perasaan saya aja yang terlalu baper atau memang sempat dirasakan yang lainnya.
Tentang Secangkir Kopi, terkadang seperti memberikan teman lebih.. disaat bercengkerama dengan orang-orang yang tidak akrab dikenal, kopi menghadirkan keakraban lebih dan menyambung berbagai pembahasan satu-ke pembahasan selanjutnya, yang kemudian membetuk menjadi orang-orang akrab yang dikenal. Ketika bersama teman, kopi menjaga setiap beat pembahasan menjadi lebih menarik, semakin disedu makin seru untuk mengobrol dengan padu, bahkan sempat lupa larut sudah jatuh menghadap subuh. Kemudian, Inspirasi kreatif juga bisa dihasilkan para creator hanya dengan menghadap mesin ketik digitanya ditemani setiap seduhan dari secangkir kopi.
Terlebih, Ngopi sudah seperti budaya bagi sebagian besar rakyat aceh, tua muda, cowok cewek, pukul rata sehari minimal sekali pasti menyeduh kopi. Disamping itu, Warung Kopi juga berselemak di Aceh.
Hari ini saya memposting tulisan ini juga sambil menyeduh secangkir Kopi nikmat milik Surin Kupi, yang terletak di JL. Ladang Neubok, Blang Pidie. Saya Ngopi bukan dalam artian belum minum kopi seharian, akan tetapi saya seperti menginginkan 'Ngopi' saja dan bertemu para penikmatnya yang lain. mempunyai kebahagia tersendiri mengenai Secangkir Kopi yang bisa diseduh bersama para penikmatnya yang lain, memang saya datang sendiri, tapi seperti yang saya katakan bahwa 'Ngopi' kembali membuktikan bahwa saya kembali menciptakan hubungan silaturahmi dengan orang-orang yang tidak akrab dikenal untuk bermetamorfosa menjadi orang yang akrab dikenal.
Begitulah secangkir dan segelas kopi memperlakukan penikmatnya.

0 komentar:

Posting Komentar