Menapaki jejak langkah yang lelah berlari, mengutip rasa sabar sembari bersyukur di dalam hati. Kini tidak lagi berada pada posisinya mengucap indah, bahkan nyaman merupakan sebuah kata terlemah untuk menjadi lumrah. Mengenang mapan hanya kembali pada titik terendah, seakan-akan ingin mengoyak kembali kisah-kisah.
Resapi saja apa yang sedang digenggam, agar semuanya terasa ada hingga tidak akan tenggelam dan remuk redam. Sama hal layaknya perkara kisah di luar nalar, bercerita seakan-akan tidak lagi mengakar, berceritalah dengan imaji yang kembali menghanyutkan hati, ku kembali hanya mampu diam tanpa mendelik sama sekali.
Selamat merengkuh di tepi danau keruh, ku sudah tenggelam didalamnya tanpa separuh, dan suatu saat kembali dari sananya kumulai bertaruh, mencerca cerita tanpa bagian dari cerita yang dulu tidak menyeluruh, agar tidak dungu dengan cerita yang tidak utuh.
Selamat pagi wahai malam, kuakan kembali bercerita tentang senja tanpa termaram.
Resapi saja apa yang sedang digenggam, agar semuanya terasa ada hingga tidak akan tenggelam dan remuk redam. Sama hal layaknya perkara kisah di luar nalar, bercerita seakan-akan tidak lagi mengakar, berceritalah dengan imaji yang kembali menghanyutkan hati, ku kembali hanya mampu diam tanpa mendelik sama sekali.
Selamat merengkuh di tepi danau keruh, ku sudah tenggelam didalamnya tanpa separuh, dan suatu saat kembali dari sananya kumulai bertaruh, mencerca cerita tanpa bagian dari cerita yang dulu tidak menyeluruh, agar tidak dungu dengan cerita yang tidak utuh.
Selamat pagi wahai malam, kuakan kembali bercerita tentang senja tanpa termaram.






0 komentar:
Posting Komentar